Mau Naik Kereta Ekonomi? No, Thanks..


Ini mengenai kejadian semalem waktu pulang dari Pekan Raya Jakarta (PRJ) berdua sama Putry naik kereta ekonomi. Sebenernya sih kami mau naik Commuter Line untuk pulang ke Depok dari Stasiun Sawah Besar, tapi berhubung kami telat untuk kereta yang jam 8 dan tidak mau menunggu terlalu lama untuk naik kereta jam 9, terpaksa deh kami naik kereta ekonomi.

Kami menunggu kereta datang dengan duduk bersandar di tiang peron stasiun, bukan kami saja yang ternyata yang menunggu, ada 2 orang lain yang juga ikut menunggu kereta tersebut.

Sekitar 10 menit kami menunggu, akhirnya kereta ekonomi warna orange pucat itupun datang. Gerbong pertama sampai gerbong ketiga terlihat gelap dan penuk sesak, membuat kami enggan untuk naik.. tapi karena waktu yang semakin malam, kami pun naik di gerbong keempat yang terlihat terang dan agak lowong. Saat kami sudah di dalam gerbong tersebut, gw perhatikan setiap orang terlihat begitu acuh satu sama lain. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, sorot-sorot mata yang seakan berbicara “senggol, gw bacok lo!” memperlihatkan ciri masyarakat urban yang telah kehilangan sifat ramah-tamah dalam kehidupan sosialnya.

Ditengah perjalanan, gw merasa mencium bau benda terbakar di sekitar gw. Bener aja, ada yang buang puntung rokok yang masih nyala di dalem gerbong!  untung penumpang yang lain juga sadar, dan langsung disiram air hingga bener-bener mati apinya. Ga bis pikir aja, gerbong kereta di samain sama asbak rokok!

“Gila, lama banget sampenya..” baru kali ini gw naik kereta dari Sawah Besar ke Depok terasa lama. Mungkin, karena terlalu penuh oleh penumpang ikut mempengaruhi laju kereta itu sendiri. Dan setelah melewati beberapa stasiun kereta, akhirnya kami memasuki stasiun Depok Baru, kami bersiap menuju pintu keluar agar lebih mudah keluar dari kereta. Meskipun sudah banyak yang berkumpul di depan pintu, hingga sulit untuk mencari celah kosong. Gw terus berusaha menggenggam jemari tangannya Putry, takut dia terpisah saat turun dari kereta.

Tapi apa yang terjadi, belum kaki ini sampai di peron stasiun, penumpang yang lain saling dorong seperti orang yang sedang berebut sembako dari pemerintah hingga gw tersungkur di peron dan Putry juga terjatuh dan terinjak oleh penumpang yang lain, dan tidak ada yang peduli sampai gw berdiri dan beberapa penumpang disitu menariknya. “What The Hell”…, mungkinkah karena kemiskinan di negara ini membuat masyarakatnya kehilangan moral seperti itu?

KRL Ekonomi adalah salah satu kereta paling sibuk di Indonesia, dengan jadwal komuter yang biasa dipenuhi oleh penumpang karena tarifnya lebih murah dibanding KRL kelas Ekspres/Eksekutif. Penumpang bergelantungan di pintu gerbong, di sambungan antar gerbong, dan di atas gerbong yang tentu membahayakan nyawa mereka, demi untuk terhindar dari petugas pengecek karcis. Tidak jarang penumpang KRL Ekonomi tewas karena melakukan hal-hal tersebut. Selain itu, di KRL Ekonomi juga banyak sekali pencopet dan pedagang asongan yang menggangu.

Sementara, masalah lainnya adalah kurangnya perawatan terhadap unit kereta. Fasilitas penunjang seperti palang pintu perlintasan pun kadang sudah rusak, sehingga tidak bisa menutup. Kurangnya disiplin para pengendara kendaraan bermotor mengakibatkan banyak mobil atau motor pribadi ditabrak oleh kereta. Kelalaian petugas atau masinis juga kadang membahayakan kereta dan juga pengendara kendaraan bermotor. Contohnya lupa menutup palang perlintasan kereta, ataupun pelanggaran sinyal, yang mengakibatkan banyak kecelakaan kereta; contohnya peristiwa Bintaro 1987.

Fasilitas stasiun seperti tempat duduk, penerangan, dan keamanan sangat tidak memadai. Pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari, banyak penumpang yang berdiri. Selain itu, stasiun juga sering dipenuhi oleh warga tuna wisma yang memanfaatkan stasiun sebagai tempat tinggal mereka. Banyaknya stasiun yang tidak berpagar serta tidak adanya petugas yang memeriksa penumpang di pintu masuk/keluar stasiun, mengakibatkan banyaknya penumpang KRL yang tidak membeli karcis.

Mungkin untuk mengharapkan kesadaran orang lain akan bahaya buang puntung rokok yang masih menyala begitu di dalam kereta seperti mengharapkan bangsa ini lepas dari jeratan korupsi kali ye.. Tapi mengharapkan kesadaran akan perilaku tertib di masyarakat, terutama bagi pengguna kereta api ekonomi mungkin masih bisa dilakukan ASAL pemerintah lebih memperhatikan kualitas kereta api dengan lebih meningkatkan modernisasi  setiap kereta api, terutama kenyamanan dan kebersihan setiap gerbong kereta, kualitas stasiun kereta api, hingga pembenahan dalam tubuh PT. KAI selaku penanggungjawab  operasional perkeretaapian.

Advertisements

2 thoughts on “Mau Naik Kereta Ekonomi? No, Thanks..

    • saya pikir, si tukang koran tidak berfikir terlalu jauh sebelum mau melecehkan anda! katarak mungkin… :))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s