Dokter Eka, Saya, dan Kehidupan…


DR. Eka Julianta Wahjoepramono

Eka Julianta Wahjoepramono atau  sering saya panggil DR. Eka adalah dokter bedah saraf yang menangani saya bersama timnya di RS. Siloam Hospital, Karawaci, Tanggerang. Beliau merupakan dokter saraf ke-3 selain DR. Suryo Atmodjo Saleh dan DR. Rahim Purba saat di RS. Pondok Indah, Jakarta yang turut menangani tumor yang menyerang otak saya.

Sebagai dokter ahli bedah saraf kaliber dunia, DR. Eka kerap diundang melakukan presentasi di berbagai fakultas kedokteran dan simposium di seluruh dunia baik Amerika, Eropa, Australia, Asia, dan Afrika. Selain itu, beliau juga menjadi guru besar tamu di bagian bedah saraf Harvard Medical School, University of  Arkansas for Medical Sciences dan menjadi dekan di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) Lippo, Karawaci.

Sebelumnya, sudah 2 kali saya melakukan pengangkatan tumor tetapi semuanya belum berhasil 100 persen. Pada operasi pertama (2007) di RS. Pondok Indah, karena keterbatasan alat terpaksa tidak semua sel tumor di otak saya berhasil diangkat dan harus dilakukan operasi lanjutan. Sayapun direkomendasi untuk melanjutkan operasi ke DR. Eka di RS. Siloam Hospital.

Awalnya saya tidak tahu siapa itu DR. Eka, saya hanya diberitahu oleh DR. Rahim bahwa di Siloam ada alat yang dapat membantu untuk menuntaskan operasi saya sebelumnya. Alat yang diberi nama “Navigator” tersebut hanya ada satu di Indonesia, dan itu hanya terdapat di Siloam.  Saat itu, saya harus segera melakukan operasi, tetapi biaya menjadi kendala utama saya saat itu. Jujur, biaya saat operasi sebelumnya  sangat besar, hingga almarhum ayah saya harus menjual sebidang tanah untuk menutup semua biaya pada waktu tersebut. Dan karena alasan itu pula, saya tidak bisa melakukan pengobatan di luar negeri seperti yang banyak orang lain menganjurkannya kepada saya. Pasca operasipun saya tidak begitu mengenal beliau, saat general cek-up pun, saya lebih sering bertemu dengan DR. Julius. Jadi sangat wajar bila saat itu saya sangat begitu ingin mengenal DR. Eka…

Selama perjalanan tahun pertama setelah operasi di Siloam, saya masih mengalami kejang dan sakit dikepala yang intensitasnya terus bertambah. Hal tersebut membuat diri saya sendiri bingung, kenapa saya masih mengalami rasa sakit tersebut?! Hal ini membuat saya kembali konsultasi secara medis ke DR. Suryo di RS. Pondok Indah untuk mengetahui kondisi terkini diri saya. Dan pada saat itu bukannya saya tidak mau untuk melanjutkan konsultasi ke Siloam, karena pertimbangan jarak dan waktu maka diperbolehkan oleh DR. Eka sendiri untuk melakukan tindakan di RS. Pondok Indah bila kondisi saya dalam keadaan darurat.

Akhir Januari 2010, saya kembali di vonis menderita meningioma (brain tumor) di dekat lokasi bekas tumor saya yang telah diangkat. Terkejut, putus asa, dan merasa waktu saya telah habis saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi untuk menyembuhkan penyakit tersebut, saya benar-benar putus asa karena saya pikir tidak mungkin membedah kembali kepala saya pada saat itu, keluarga telah mengeluarkan cukup banyak biaya selama ini demi pengobatan saya… saya hanya tidak mau lebih membebankan mereka.

Saya mencoba menjalani hidup dengan penuh rasa optimis, ikhlas akan keadaan diri saya, serta terlihat senormal mungkin di depan orang lain. Meski sahabat, keluarga dan orang yang mengenal saya tahu akan kondisi saya, tetapi saya bersyukur mereka bisa menerima saya dan menganggap saya sebagai bagian dari mereka..

Maret 2010, saya melakukan penyinaran radiasi untuk menghambat sel tumor agar tidak berkembang di RSCM. Hal tersebut dilakukan karena secara pribadi dan materi saat itu saya belum siap untuk melakukan tindakan bedah. Saya harus menunggu sampai bulan Juni 2010 untuk mengetahui keberhasilan penyinaran yang saya lakukan.

Dalam keadaan menunggu tersebut, saya berinisiatif untuk mengenal lebih jauh mengenai sosok DR. Eka. Saya mencoba mencari informasi di internet, hingga suatu waktu saya menonton acara Kick Andy di Metro Tv yang menghadirkan DR. Eka sebagai narasumber. Saat menontonnya saya bertanya dalam hati, “Bukannya dia dokter yang 2 tahun lalu membedah gw di Siloam?”

Tinta Emas di Kanvas Dunia, Biografi DR. Eka

Memang pepatah “Tak kenal, maka tak sayang” berlaku bagi saya saat itu. Melihat rekam jejak beliau yang dinarasikan dengan baik oleh Andy F. Noya, membuat hati saya tertegun, “saya menyesal, tidak mengenal beliau lebih dekat”. Dengan tangan dinginnya, setiap tahun DR. Eka beserta tim melakukan sekitar 600 operasi otak dan sejauh ini melakukan 23 kasus pembedahan batang otak, jenis operasi yang amat langka, rumit, dan beresiko fatal. Terlebih setelah membaca buku “Tinta Emas di Kanvas Dunia” yang merupakan buku biografi beliau yang ditulis oleh jurnalis senior Pitan Daslani, semakin membuat saya yakin saat itu untuk memilih beliau melakukan pembedahan ke-3 terhadap tumor di otak saya bila penyinaran yang saya lakukan tidak berhasil.

Saat memasuki akhir bulan Mei 2010 saya kembali mendapatkan serangan yang begitu hebat, hingga saya harus dibawa ke rumah sakit. Dan saya meminta untuk dibawa langsung ke RS. Siloam Hospital, dan bersikeras harus DR. Eka yang menangani saya pada waktu itu. Sayapun dirawat selama 3 hari, tetapi saat itu tidak bisa langsung dilakukan tindakan bedah karena hasil penyinaran yang saya lakukan masih menunggu bulan Juni untuk diketahui. Dan sayapun harus menahan rasa sakit yang amat sangat menyiksa kepala saya, serta membuat tubuh saya tidak berdaya menghadapinya…

Belum hitungan hari saya pulang dari rumah sakit, saya kembali mendapatkan serangan yang sama… tubuh kejang, kepala terasa sakit sekali seperti ditusuk oleh jarum. Saya merasa ingin menyerah saja, sungguh saya sudah tidak kuat menahan rasa sakit tersebut… hingga saya tak sadarkan diri.

Saat terbangun, saya sudah dikamar rumah sakit. Dan DR. Eka beserta tim bedah sarafnya datang, lalu beliau bertanya kepada saya mengenai keadaan saya saat itu. Dengan gaya bahasa yang santai, beliau bertanya “sudah siap buat diangkat tumornya besok?” saya diam sejenak, dan dengan lantang saya jawab “Siap dok!”. Beliau hanya tersenyum, dan melanjutkan dengan intermezo-intermezo yang membuat saya lebih rileks menghadapi kenyataan bahwa dua hari lagi saya akan dibedah.

Hari itu datang… saya bersiap memasuki ruangan operasi. Diruang persiapan, saya menyempatkan mengirim sms untuk meminta doa kepada orang-orang yang saya kenal, dan secara khusus saya menelepon seorang wanita yang selama beberapa bulan terakhir sedang dekat dengan saya, namanya Putry. Saya ingat, saya katakan ke dia saat itu  “lw pasti orang pertama yang gw hubungin saat gw sadar setelah operasi nanti”.

Satu tahun berlalu setelah operasi yang terbilang sukses, meski selama satu tahun berjalan ini saya harus menyesuaikan kondisi tubuh yang sedikit berbeda, karena saraf motorik kiri saya yang telah bebas dari tekanan tumor harus dilatih untuk menyesuaikan kondisi saya sekarang yang telah kembali beraktivitas.

General cek-up rutin ke DR. Eka saya laksanakan dari setiap 3 bulan sekali pada 6 bulan pertama, lalu 6 bulan sekali sampai saat ini. Terakhir bertemu beliau adalah kemarin (15/7) saat  melakukan  general cek-up di Siloam Hospital. Masih ada perasaan takjub dalam diri saya bila masuk ke dalam ruangan praktek beliau, palagi bila menatap dirinya… ada rasa kagum dan bersyukur yang luar biasa karena Allah telah mengirim beliau untuk  bisa dibilang menyelamatkan nyawa saya sehingga sampai saat ini saya bisa melanjutkan kuliah, hobby fotografi saya, dan terus bersama dengan orang-orang yang saya cintai dalam hidup saya.

Saat itu, beliau sempat berujar  kepada saya “Jangan sampai penyakit membuat kita stress, hanya ketidakoptimisanlah yang membuat kita menjadi stress”. Maksud beliau mengucapkan hal tersebut adalah mengingatkan kita bahwa siapapun manusia bisa melewati ujian Tuhan, asal mau berusaha dan yakin akan kesembuhannya.

Ucapan selamat dari DR. Eka

Dalam kesempatan tersebut, DR. Eka memberikan buku biografinya yang khusus diberikan kepada saya. Membaca kalimat yang beliau tulis untuk saya, membuat gairah serta motivasi saya seakan naik untuk menjadi seseorang yang berguna dan sukses di masa yang akan datang..

Mungkin bagi orang lain, keberanian saya untuk di bedah di kepala adalah hal yang “gila”. Namun, bagi saya hanya Allah yang menentukan umur seseorang, dan DR. Eka adalah jalan yang diberikan oleh Allah SWT untuk kesembuhan diri saya..

Terimakasih kepada Allah SWT atas kesehatan yang kau berikan, dan terimakasih DR. Eka atas pengabdianmu kepada dunia kesehatan.. tanpamu, saya tidak akan pernah menulis cerita ini.

Advertisements

8 thoughts on “Dokter Eka, Saya, dan Kehidupan…

  1. A HEALTHY MAN HAS A HUNDRED WISHES, A SICK MAN HAS ONLY ONE.
    ORANG YANG SEHAT MEMPUNYAI SERATUS KEINGINAN, ORANG YANG SAKIT HANYA PUNYA SATU KEINGINAN

    A MEDICAL DOCTOR MAKES ONE HEALTHY, THE NATURE CREATES THE HEALTH. (Aristoteles)
    SEORANG DOKTER MENYEMBUHKAN, DAN ALAM YANG MENCIPTAKAN KESEHATAN. (Aristoteles)

    Semangat Terus teman, Kesempatan untuk mencapai sukses masih terbentang luas………

    Like

  2. saya boleh tau emailnya Zaenudin?, sahabat saya juga punya meningioma (recurrent multiple meningiomas) dan skrg masih menjalani terapi radiasi, insyaAllah 3-4 kali dijdwlkan sls, bbrp hari yang lalu ketemu dgn Dr. Made (tim Dr. Eka), dan menurut beliau kalau memang ada pertumbuhan tumor lagi disarankan untuk operasi. saya ingin menanyakan masalah biaya dan treatment serta fase pemulihan yang Zaenudin lakukan, dan apabila berkenan mgkn bisa sharing dengan sahabat saya. terimakasih dan semoga selalu sehat…:)

    Like

  3. halo mas daus, salam kenal ya.. boleh minta emailnya? saya mau tanya2 ttg pengobatan tumor otak.. thanks a lot mas 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s