7 Years A Go..


Ah, mungkin karena kecapean… itulah kesimpulan pertama saat merasakan ada yang berbeda  dalam tubuhku, kepala terasa pusing sebelah dan tubuhku mudah sekali capek bila melakukan aktivitas. Tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2005 saat umurku baru menginjak 18 tahun, kelas dua SMU, dan aktivitasku sungguh padat. Aktif di tim basket sekolah dan klub basket di luar sekolah, serta kebiasaanku pulang larut malam setelah latihan. Latihan empat kali seminggu mungkin terlalu berat bagi tubuhku saat itu, tapi semua itu demi cita-citaku untuk menjadi atlet basket professional.

Dua kali seminggu aku harus latihan setelah pulang sekolah, dan ditambah dua kali seminggu latihan di klub yang kadang harus pulang hingga malam karena latihan dimulai pada sore hari.

Dengan aktivitas seperti itu, aku tidak mempunyai waktu yang banyak untuk istirahat karena harus membagi waktu antara belajar dan latihan basket.

Sakit kepala sebelah itu akan datang tiba-tiba bila aku mulai kecapean setelah beraktivitas, tidak terkecuali saat di sekolah dan dirumah meski sedang bersantai sekalipun.

Hingga pada suatu malam saat aku sedang tidur, tiba-tiba aku merasakan kepalaku menegang, tubuhku kaku, nafasku tersengal-sengal tak beraturan, dan akhirnya aku mengalami kejang hingga tubuhku jatuh dari tempat tidur.

Aku tidak bisa mengontrol tubuhku yang terus meronta hebat, aku tidak bisa berfikir saat itu, berbicarapun rasanya sulit. Hingga ayahku datang, beliau segera menahan tubuhku agar tidak semakin meronta, perlahan mataku mulai gelap, akupun tidak sadarkan diri…

Sepertinya lama sekali aku tertidur, susah rasanya untuk membuka mata ini.. semakin ingin kubuka, kepala bagian kananku semakin berat dan nyeri. Aku terdiam sejenak dan masih memejamkan mata, tidak begitu lama perlahan kubuka kembali mataku ada sedikit cahaya putih yang begitu silau saat kucoba membukanya, aku pikir aku sudah tidak ada didunia ini, aku pasrah kalau memang umurku hanya sampai disitu. Tapi kenapa ada yang memanggilku dengan sebutan “mas Zaenudin”! lalu kutengok arah suara tersebut datang, ternyata seorang yang berpakaian putih membawa keranjang penuh dengan botol infus. “Saya dimana?” sembari mengganti botol infus, orang itu menjawab “Mas, sedang di rumah sakit Fatmawati, baru masuk semalam”. Ternyata orang itu adalah seorang suster, lalu saya bertanya lagi “saya sakit apa sus?” si suster hanya menjawab “biar dokter yang menjawab, kebetulan dokternya baru nanti sore datang”.

Saya tidak terlalu terkejut saat dinyatakan terserang gejala tifus oleh dokter, karena saya sempat berfikir “mungkin gw kecapean aja”. Tetapi yang mengherankan kenapa saya bisa kejang waktu itu, padahal saya tidak mempunyai riwayat kejang selama ini. Dan dokterpun tidak memberikan penjelasan terhadap masalah tersebut.

Dua minggu setelah pulang dari rumah sakit aktivitasku berjalan seperti biasa, tetapi porsi latihan basket aku kurangi sampai kondisiku benar-benar fit. Tetapi, saya masih sering merasakan sakit kepala di sebelah kanan, dan mudah sekali kecapean meskipun tidak melakukan aktivitas yang berat.

Hingga suatu hari saya kembali mengalami kejang hingga tiga kali. Dan segera Bang Jumadi, abang saya yang paling tua memutuskan untuk membawa saya ke Rumah Sakit Pondok Indah, karena sudah tidak yakin dengan rumah sakit sebelumnya.

Saat di ruang UGD, karena rasa sakit dan kepala yang terasa berat sehingga menyebabkan saya muntah, tubuh ini hanya terkulai lemas seperti semua energi terkuras. Aku terus meronta karena tidak kuat menahan sakit dikepalaku, mekipun telah diberi obat penenang tapi tetap saja sakitnya seperti ditusuk-tusuk.

Ditengah menahan rasa sakit tersebut, aku terus istighfar menyebut nama Allah, saat itu aku merasa  pasrah terhadap kondisiku, mungkin karena rasa sakit yang amat sangat telah membuatku menyerahkan semuanya kepada Allah. Selain keluargaku yang berada disitu, hanya dengan mengingat Allah lah bisa membuat diriku tenang.

Esok paginya dokter yang menanganiku datang melihat kondisiku. Dokter itu adalah DR. Suryo Admodjo Saleh, beliau adalah dokter spesialis syaraf di rumah sakit tersebut. Saat itu beliau hanya meminta untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap saya, termasuk CT-scan kepala dan MRI untuk mengetahui penyebab kejang pada diri saya.

Semua pemeriksaan telah saya lalui, karena membutuhkan waktu untuk menganalisis hasil pemeriksaan tersebut, hasilnya besok sore baru bisa diketahui. Dalam keadaan penuh pertanyaan dan harapan untuk hasil yang jauh dari buruk, saya hanya bisa terus beusaha berdoa kepada Allah SWT untuk hasil yang positif.

Ternyata Allah berkehendak lain, dari hasil pemeriksaan CT-Scan dan MRI diketahui bahwa terdapat jaringan lunak di dalam otak saya, dan merupakan tumor otak jinak atau meningioma.

Seperti petir di siang bolong, kabar tersebut sungguh membuat diriku tidak percaya. Saat itu aku langsung merasakan hidupku telah berakhir, motivasiku langsung hilang, dan aku merasa bahwa Allah tidak berlaku adil terhadap diriku.

Beruntung saat itu masih ada keluarga dan orang-orang terdekat yang masih memberiku semangat dan harapan untuk tetap melanjutkan hidup meski aku harus berjuang untuk melawan penyakitku ini.

Aku hanya berfikir mungkin Allah sedang menegurku dengan ujian hidup seperti ini. Ada satu hal yang tidak pernah membuatku jatuh terlalu lama pada saat itu, karena aku tau  “Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umatnya…”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s