Dia Harus Pergi Saat Kutengah Berjuang..


Satu mata kuliah lagi dan harus segera menuju gedung yang terpisah dari gedung utama kampus saya. Cuaca pada hari itu, Kamis 30 Agustus 2007 tidak terlalu panas meski langit sangat terlihat cerah, tetapi perasaan saya sedang tidak bagus pada saat itu, satu hari sebelumnya ayah saya yang biasa dipanggil oleh anak-anak dan orang-orang sekitar dengan sebutan “Baba” atau “Babeh” harus masuk Rumah sakit karena komplikasi penyakit yang telah lama di deritanya. Awalnya beliau mengeluh merasakan sakit di lambungnya serta gula darah yang naik, selama beberapa hari tubuh beliau tidak bisa beranjak dari tempat tidur.

Sungguh tidak tega saya melihat keadaan kesehatannya yang memburuk, apalagi bila melihat wajah ibu saya yang penuh dengan kesedihan karena selain mengurus Baba yang sedang sakit, juga harus memikirkan diri saya yang sedang berjuang melawan tumor otak.
Selama di kelas perasaan saya sangat tidak tenang, pikiran saya terus tertuju kepada kondisi Baba di rumah sakit, meskipun saya terus berusaha untuk tenang tetapi hati ini selalu ingin segera pulang ke rumah. Segera setelah perkuliahan, karena jarak yg cukup jauh dari tempat angkot ngetem, saya meminta tolong kepada Fajrie teman saya untuk mengantar saya mencari angkot untuk pulang dengan motornya.

Dalam perjalanan pulang, saya mencoba menghubungi rumah dari handphone, tetapi tidak diangkat hingga berkali-kali, lalu saya mencoba menghubungi kaka saya yang sedang di rumah sakit… tidak berapa lama telepon saya diangkat, lalu ada suara diseberang sana yang bilang ke saya “Kalau sudah pulang, tunggu saja dirumah, ada Mpo Atin disana” tut..tut..tut..

Sungguh saya semakin bingung dengan yang terjadi hari itu, namun saya tidak ingin mengikuti firasat dalam diri saya.. saya hanya tidak ingin hal yang buruk terjadi. Saya duduk di dalam angkot dengan penuh ketidakpastian, penuh dengan pikiran negatif, tetapi saya berusaha tidak mengikuti kekhawatiran dalam pikiran saya. Beruntung angkot yang saya tumpangi tidak begitu sering berhenti, dan jalan raya ke arah rumah sayapun terasa lengang tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu macet.

Tidak sampai setengah jam akhirnya saya sampai di depan jalan menuju rumah, tiba-tiba ada ojek yang biasa mangkal di sana menghampiri saya dan berbicara kepada saya “Ayo cepetan us, gw disuruh anter lw ke rumah”. Lalu saya bertanya “memangnya ada apa bang?” tapi dia hanya diam tidak menjawab pertanyaan saya, saya bertanya dalam hati “ada apa ini?”. Sampai dirumah hanya ada Mpo Atin, kakak perempuan saya yang nomor 9. Memang kami semua 13 bersaudara dan saya adalah anak yang terakhir atu yang ke 13. Saya langsung bertanya kepada dia ada apa sebenarnya? Dari penjelasannya saya mengetahui bahwa Baba sedang mengalami masa kritis, dan semua keluarga kecuali Mpo Atin dan saya sudah berada di rumah sakit.

“Kenapa tidak ada yang menghubungi gw tadi?” pertanyaan tersebut langsung keluar dari mulut saya, dan Mpo Atin menjawab “Tadi kabar dari rumah sakit begitu mendadak, dan tidak ada waktu lama, tetapi bukan lupa sama Daus, hanya yang lain tidak mau membuat Daus berfikir macam-macam”.

Saya bisa maklum terhadap alasan tersebut, memang saya tidak diperbolehkan berfikir yang terlalu berat dan menyebabkan stress, yang bisa menyebabkan diri saya mengalami kejang, namun saya menyesal tidak ada di samping Baba disaat genting dalam hidupnya.

Telepon rumah berdering, segera Mpo Atin mengangkatnya, namun tidak lama kemudian dia mengeluarkan air mata, sambil terisak pelan dia menutup telepon tersebut, lalu menghampiri saya dan berujar pelan…”Baba udah dipanggil us”. Jlebb… saya langsung terdiam, rasanya sulit untuk mengeluarkan kalimat dari mulut saya, saya langsung terduduk lemas menyandar pada tembok di belakan saya. Saya tidak bisa membendung air mata ini, tetapi saya tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, saya mencoba ikhlas menerima semua ini meskipun dimata saya Baba adalah sosok ayah yang sempurna, ayah yang selalu bekerja keras demi melihat keluarga yang amat dia cintai hidup dengan bahagia, ayah yang mendukung setiap keinginan anak-anaknya, ayah yang menjadi teladan bukan hanya bagi keluarga tetapi juga bagi orang lain, ayah yang mengenalkan saya kepada sepakbola hingga sekarang saya menjadi seorang penggila sepakbola, ayah yang mendukung saat saya memilih menekuni basket, ayah yang selalu sabar bila melihat saya kejang serta kesakitan akibat tumor otak yang saya derita, serta ayah yang terus berusaha mencari jalan keluar untuk kesembuhan saya, meski beliau juga mempunyai penyakit yang membutuhkan perhatian.

Jenazah Baba tiba dirumah sehabis magrib, dan diputuskan untuk menguburnya keesokan harinya, yaitu pada hari Jumat 31 Agustus 2007 setelah Shalat Jumat. Keesokan harinya, jenazah Baba dikubur tepat disamping makam ibundanya (nenek) dan anaknya, yang tak lain adalah kakaku yang nomor 2.

Beberapa hari sebelum beliau masuk rumah sakit, ada sebuah momen saat kami duduk berdua di pekarangan belakang rumah pada sore hari. Dalam kesempatan itu, Baba menayakan perkembangan kesehatan dan kuliah saya, serta tidak lupa menceritakan saat masa muda beliau, meski sudah berkali-kali Baba menceritakan hal tersebut tetapi saya tidak pernah bosan mendengarnya, karena Baba mempunyai keunikan dalam berbicara. Kata “Ngarti kaga lu” atau “Paham kaga”  adalah kata yang wajib ada bila beliau sedang bicara, pembawaannya yang lucu membuat saya nyaman bila berbicara santai maupun serius dengan beliau.

Ditengah perbincangan tersebut, kami berdua sempat terdiam.. tiba-tiba Baba berujar “Kapan-kapan mau buat bale atu saung yang gedean, biar kalo banyak orang dateng ketampung semua”. Pada saat itu saya menanggapinya dengan santai, saya tidak merasa kalau kalimat tersebut adalah pertanda beliau akan meninggalkan kami semua, dan itulah terakhir kalinya saya duduk santai berdua dengan beliau. Saya tahu kepergian Baba adalah ujian terberat bagi saya, apalagi beliau begitu berharap melihat saya sembuh dari tumor otak  serta melihat saya menjadi seorang sarjana. Tetapi sebelum hal tersebut kesampaian, Allah terlebih dahulu memanggil beliau. Sejak itu saya bertekad akan berusaha keras untuk memenuhi harapannya melihat saya sembuh dan menjadi seorang sarjana, serta meraih sukses dimasa depan meski beliau akan melihatnya dari surga.. Amin.

Advertisements

6 thoughts on “Dia Harus Pergi Saat Kutengah Berjuang..

  1. subhanallah, saya sampe berkaca-kaca baca postingan ini. tetap semangat ya Daus..
    cepet-cepet beresin kuliahnya dan jadi Sarjana yang sukses 🙂
    semoga beliau selalu dalam lindunganNya, amiin

    Like

  2. us udah sembuh kan? soalnya saya baca ‘mantan penderita tumor otak’….

    semua orang pernah kehilanga orang terpenting dalam hidupnya…

    tapi kematian hanya masalah giliran

    kita juga akan meninggalkan dunia ini

    salam kenal dan jabat erat dari Pontianak

    Like

    • Alhamdulillah sudah dinyatakan sembuh dari tumor..

      betul, umur ada ditangan Allah, Ikhlas dan syukuri aja hidup ini..

      salam kenal juga 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s