Pertama Dari Tiga Operasi Tumor


Bedah Otak

Alarm di handphone Sony Erricson silver saya menyala dengan bunyi khasnya menunjukan waktu sudah jam 5 pagi, saya berusaha untuk membuka mata dan bersiap bangun untuk ke kamar mandi yang tidak jauh dari kamar saya. Sejenak saya berhenti di depan pintu kamar dan melihat foto Baba yang terpasang di dinding depan kamar saya, lalu sayapun teringat hari ini genap dua bulan sejak beliau pergi meninggalkan dunia ini.

Tiba di kamar mandi, saya langsung mengambil air wudhu untuk shalat, tetapi saya merasa ada yang aneh dengan kaki saya. Awalnya seperti kesemutan, lalu sedikit sulit untuk digerakkan, tak lama kemudian kaki saya tiba-tiba lemas, dan sejurus kemudian sayapun jatuh terduduk di lantai kamar mandi.

Suara saya yang meminta tolong seakan memecah kesunyian di waktu subuh. Tidak lama kemudian Ibu saya datang dengan tergopoh-gopoh lalu memanggil saya dari luar, melihat kamar mandi yang terkunci dari dalam, dengan kondisi kaki yang lemas dan tidak dapat digerakkan, saya berusaha merangkak menuju pintu untuk membukanya dari dalam, tetapi rasanya begitu sulit untuk bergerak.

Disaat saya sudah tidak sanggup untuk merangkak lagi, terdengar suara salah satu kakak saya Bang Aam dan langsung mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Tubuh inipun segera diangkat olehnya dan dibaringkan di kamar saya.

Entah sebab seperti apa yang membuat kaki saya tiba-tiba lemas dan tidak bisa bergerak seperti itu, saat itu saya takut apakah tumor otak yang saya derita bisa menyebabkan kelumpuhan pada kaki saya.

Shalat subuh yang ingin saya lakukan terpaksa tidak saya lanjutkan, saya benar-benar tidak bisa menggerakkan kedua kaki saya apalagi untuk bangun dari tempat tidur. Saya hanya duduk selonjoran di atas tempat tidur, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dengan kaki saya, hanya kedua tangan saya yang dapat diandalkan saat itu. Namun tidak sampai setengah jam kaki saya berangsur kembali normal.

Banyak pertanyaan dalam pikiran saya mengenai gejala yang saya alami tersebut, sayapun ingin tahu lebih jauh mengenai tumor otak yang saya alami dengan mencari informasi melalui internet.

Dari berbagai artikel yang saya baca, keluhan yang saya alami adalah salah satu efek dari tekanan yang dilakukan oleh tumor terhadap syaraf motorik yang terdapat di otak saya. Dan bila dibiarkan tanpa melakukan tindakan pengangkatan akan menimbulkan resiko kelumpuhan di masa yang akan datang.

Dua hari kemudian, saya mengalami kejang yang cukup lama. Tidak seperti kejang yang sebelumnya sering saya alami, kali ini sesudah kejang kaki saya kembali tidak bisa digerakkan dan terlebih kaki kiri saya benar-benar terasa lebih berat dan sulit untuk bergerak daripada kaki kanan saya.

Ibu memutuskan untuk membawa saya ke Rumah Sakit Pondok Indah, dari kesimpulan sementara DR. Suryo diketahui bahwa apa yang terjadi dengan kaki saya adalah akibat tumor yang sedang membengkak dan menekan syaraf motorik kanan tubuh, sayapun harus dirawat untuk memulihkan kondisi tubuh.

Namun apa yang terjadi, dalam tiga hari saya mengalami kejang sebanyak 6 kali, dan hal itu dianggap tidak wajar oleh dokter. Segera dilakukan CT-Scan dan MRI untuk mengetahui apa yang terjadi, dan hasilnya adalah tumor di otak saya sedang membengkak. Hal itu yang menyebabkan saya mengalami kejang hingga berkali-kali dalam kurun waktu yang dekat, dan menyebabkan sakit yang amat berat di kepala saya serta kondisi fisik saya yang semakin melemah.

DR. Suryo pun menyarankan untuk segera melakukan pengangkatan tumor melaui operasi, karena melihat kondisi saya pada waktu itu beliau khawatir tumor tersebut semakin mengganggu fungsi tubuh saya bila tidak segera diangkat.

Dua bulan kemudian, operasi pun dilaksanakan. Operasi tersebut adalah operasi pertama dari tiga kali operasi pengangkatan tumor di otak yang pernah saya alami. Dalam operasi tersebut, dokter yang membedah saya adalah DR. Rahim Purba. Namun dalam pelaksanaanya DR. Rahim tidak dapat menuntaskan operasi tersebut karena peralatan yang tersedia di rumah sakit belum cukup canggih untuk menjangkau lokasi tumor saya yang berada di tengah otak dan menempel pada jaringan yang sangat membahayakan keselamatan saya bila terjadi kegagalan.

Beliau tidak ingin memaksakan untuk mengambil resiko tersebut. Setelah saya pulih setelah operasi, beliau segera mengirim saya ke Rumah Sakit Siloam untuk bertemu DR. Eka dan menuntaskan operasi sebelumnya di rumah sakit tersebut.

Dengan menggunakan alat yang bernama Navigator, yang dalam pengoperasiannya dimasukan melalui hidung pasien, saya menjalani operasi lanjutan di tangan DR. Eka. Dan syukur Alhamdulillah, operasi tersebut berhasil dan selama satu tahun saya tidak merasakan keluhan apapun.

Manusia hanya mampu berharap, namun Allah tidak hanya menilai sebuah harapan, Dia melihat sebuah usaha…

Advertisements

5 thoughts on “Pertama Dari Tiga Operasi Tumor

  1. alhamdulillah bro ..
    smoga Allah selalu menjaga kesehatan anda dan keluarga..
    Luar biasa,
    semua ada obatnya,,
    untung segera di angkat tumornya.Jika tidak pastilah akan menimbulkan efek dikemudian hari.Semoga selalu sehat dan dapat berbagi manfaat bersama. .. aamiinn

    Like

    • Amiin… seharusnya sejak terdiagnosa harus segera diangkat, tapi karena saya belum siap secara mental jadi ditunda sembari mengumpulkan dana operasi mas.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s