SYAL MERAH PUTIH


Garuda di dadaku…

Garuda kebanggaanku…

Kuyakin hari ini pasti menang…

 

Foto diri saya mengenakan syal merah putih saat hendak menonton pertandingan Timnas di SUGBK

Itulah lagu wajib bagi para suporter Indonesia. Lagu yang membakar semangat dan menyatukan puluhan ribu orang yang datang langsung ke stadion dimana tim nasional bertanding dengan tidak membedakan perbedaan diantara mereka.

Mereka hanya datang dengan satu tujuan, yaitu untuk mendukung pejuangan tim nasional di atas lapangan hijau. Mereka datang dengan damai, dengan harapan tersenyum saat pluit tanda pertandingan berakhir bagi kemenangan tim nasional Indonesia. Itulah suporter sepakbola, mereka ingin menikmati pertandingan dengan harapan melihat sebuah kemenangan.

Tentu para suporter Indonesia yang hadir saat Indonesia menjamu Bahrain juga menginginkan hal tersebut terhadap tim nasional dan tetap mengidamkan menonton pertandingan sepakbola didalam stadion dengan perasaan yang nyaman, dan aman tentunya.

Tetapi, ada saja tindakan anarkis yang dilakukan oleh suporter Indonesia dikala merasa tidak puas terhadap situasi didalam pertandingan maupun hasil akhir. Mereka tentu memiliki alasan tersendiri untuk melakukan tindakan tersebut, namun haruskah dengan menunjukan ekspresivitas negatif dengan menyalakan mercon, dan melempar botol minuman ke arah lapangan?

Sebagai pecinta tim nasional Indonesia, tidak semestinya tindakan anarkis tersebut dilakukan. Kita bisa menunjukan fanatisme dengan menjadi suporter yang baik, tidak perlu melulu dengan menunjukan superioritas dengan nyala mercon. Bukankah lebih baik menunjukan superioritas di atas lapangan dan menjadi tuan rumah yang baik. Cukup dengan sebuah syal merah putih bertuliskan INDONESIA, kita duduk di dalam stadion dengan tenang dan nyaman menonton jalannya pertandingan. Mengangkat syal tersebut saat menyanyikan Indonesia Raya dan memutarnya untuk memberikan semangat kepada tim nasional, syal yang nantinya bisa terus tersimpan, bisa terus dilihat, dan bisa menimbulkan kenangan tanpa menjadi asap lalu hilang tertiup angin. Andai suporter di Indonesia lebih dimanjakan dengan fasilitas, permainan, dan sportivitas diatas lapangan mungkin anarkisme jauh dari sepakbola Indonesia. Dan apabila muncul pertanyaan, bisakah Indonesia masuk Piala Dunia?.. Akankah Indonesia menjadi juara Asia?.. jawabannya PASTI BISA.

Asal PSSI segera membenahi sepakbola ditanah air menuju industri yang professional dan memiliki pembinaan yang menjadi basic untuk membentuk tim nasional yang tangguh di masa yang akan datang. Dan untuk para pemimpin negeri, berilah perhatian kepada sepakbola di negeri ini, kita sudah sangat tertinggal jauh. Contohlah kami para suporter, setia mendampingi perjuangan Garuda hingga pluit akhir pertandingan, dengan harapan melihat sebuah kemenangan.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s