Love And Leadership


Pemimpin macam apa yang enggan mendengarkan suara rakyatnya, warganya, atau karyawannya. Sayangnya, sosok tersebut adalah seorang pemimpin yang menanam sebuah bom waktu di dalam tubuh, atau bahkan jiwanya. Mengapa penilaian saya seperti itu. Mudah saja, karena manusia tidak menginginkan perintah, tapi  lebih membutuhkan cinta dan persahabatan.

Inilah yang saya tidak temukan di tempat saya bekerja (hingga lima hari kedepan) saat ini, sebuah portal olahraga yang mengaku berskala nasional tapi memiliki Redaktur Pelaksana yang irasional. Anak-anak dikantor menyebutnya Budiono (bukan nama sebenarnya), karena sosoknya yang terlihat klemar-klemer dan terlalu nyaman disetir atasan alias tidak memiliki kepedulian, apalagi memperjuangkan hak anak buahnya di bagian redaksional. Sebagai seorang pemimpin, Budiono adalah sosok yang tertutup dan terlalu menjaga jarak dengan semua orang.

Oke, saya tidak bisa membandingkan kemampuan Budiono dari segi redaksional, karena terlalu subjektif. Saya akui, banyak tulisan saya yang tidak luput dari kesalahan. Tapi sebagai orang pernah belajar jurnalistik dan memiliki pengalaman di bidang tersebut, saya menilai banyak keputusan Budiono yang melenceng dari aturan jurnalistik yang ada. Apalagi dirinya adalah tipe pemimpin yang menerapkan  aturan >> Pasal 1: Bos selalu benar. Pasal 2: Bila bos salah, kembali ke Pasal 1. Ditambah bila melihat keraguan yang besar dan tidak adanya sikap respek terhadap kepemimpinannya  dari hampir seluruh teman-teman dikantor, saya rasa cukup untuk memberi gambaran.

Meminjam sepenggal kalimat dari seorang Dale Carnegie dalam bukunya, How To Win Friends & Influence People.

“Apakah manajer yang memiliki hard skill yang duduk di ruangan tertutup dan menelaah laporan-laporan yang diterimanya lebih unggul ketimbang manajer dengan hard skill yang berkumpul dengan anak buahnya, yang diketahui, dilihat, dan dihormati oleh anak-anak buahnya? Walaupun manajer yang pertama mungkin meraih sedikit kesuksesan dengan memaksakan kehendaknya, pengaruh yang diberikannya kepada orang lain sangat cacat karena kuasa yang dimilikinya tidak didapatkan dari orang-orangnya. Pengaruhnya hanya berlangsung dalam jangka pendek.”

Cintai dan hargai orang-orang yang berada di bawah kepemimpinamu, hanya itu cara untuk menarik kasih sayang dan simpati mereka. Jangan hanya memancing atau menambah ketidaknyamanan yang berbalik menjadi hujatan terhadap dirimu semata. Hal yang sia-sia.

Pengorbanan, sepenggal istilah yang mencerminkan kearifan dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Apakah sifat tersebut hanya dimiliki seorang Ayah?. Tidak,  semua itu harus bisa dimiliki oleh semua pemimpin.

 

Untuk semua pemimpin di Indonesia (yang lebih baik).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s