My Journey : Bali & Lombok


Bermodalkan masa persiapan yang singkat dan dana yang terbatas, akhirnya kaki ini berhasil menancapkan jejaknya di tanah Bali dan Lombok dalam kurun waktu lima hari perjalanan dihitung sejak berangkat dari Jakarta. Ya, sekitar satu minggu yang lalu tanggal 20 Januari 2015 saya memulai perjalanan seorang diri menuju pulau Lombok menggunakan Kereta Api Bisnis Gumarang dengan tiket seharga Rp 230.000,- berangkat dari Stasiun Jakarta Kota pada pukul 15.30 WIB.

Kalian yang membaca tulisan ini mungkin menganggap, solo trip yang saya lakukan adalah sebuah perjalanan yang tidak istimewa. Tapi, bagi saya, ini merupakan sebuah perjalanan nekat ala Daus. Kenapa saya sebut demikian, karena awalnya saya tidak merencanakan melakukan perjalanan ini seorang diri. Dua orang keponakan saya, yang kebetulan sudah menyatakan kesiapannya ikut di awal-awal mendadak menarik diri. Jadilah, hingga hari keberangkatan, tinggal saya sendiri. Tapi, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi saya, karena sudah sejak lama memang saya mengidamkan untuk memulai membuka langkah ke timur Indonesia. Dan hal tersebut saya mulai dengan menginjakkan kaki di pintu gerbang nusa tenggara.

Pintu masuk stasiun kota.

Pintu masuk menuju ruang tunggu penumpang di Stasiun Jakarta Kota.

Beruntung, sepanjang perjalanan menumpang kereta dari Jakarta, saya mendapatkan tempat duduk berdekatan dengan satu keluarga yang baik hati. Berawal dari obroran panjang, lalu merembet ke keluhan yang sama terhadap air pendingin gerbong yang bocor, yang menyebabkan salah seorang dari keluarga tersebut terpaksa pindah tempat duduk ke samping saya yang kebetulan kosong sejak dari Jakarta. Tidak hanya itu, kebaikan mereka juga terlihat saat menawarkan beberapa bungkus roti sobek dan cupcake kepada saya. Tidak ingin menolak rezeki, saya dengan terlebih dahulu sedikit menolak akhirnya “luluh” juga dan menerima pemberian mereka. Dalam hati, cukup bersyukur bahwa ada saja rezeki yang datang di saat diri saya memang sebelum naik dan kereta berangkat lupa membeli makanan untuk perjalanan panjang ini, hehe..

SURABAYA

Setelah menempuh perjalanan menggunakan kereta api selama kurang lebih 12 jam, kereta yang saya tumpangi akhirnya tiba juga di Stasiun Pasar Turi Surabaya tepat pada tanggal 21 Januari 2015 sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Sembari menunggu mentari pagi menunjukkan senyumnya, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang tunggu stasiun yang berada tidak jauh dari loket tiket, sebelum menuju ke Stasiun Gubeng guna melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Di tengah menunggu tersebut, saya bertegur sapa dengan seorang pria berumur 30 tahunan asal Sumbawa yang ternyata satu kereta dengan saya sejak dari Stasiun Cirebon. Dari keterangannya, sosok yang saya panggil mas Iwan itu baru saja pulang dari tempat temannya di Kuningan, Jawa Barat.

Awalnya, saya cukup waspada terhadap mas Iwan ini. Bagaimanapun, saya bepergian seorang diri dari Jakarta dan harus pintar mengatur pengeluaran untuk diri sendiri selama perjalanan tersebut. Dan lagi, saya juga baru mengenal mas Iwan ini saat tiba di Surabaya. Sedikit tips, saat bepergian seorang diri ataupun berkelompok, tetap utamakan kewaspadaan terhadap barang pribadi. Terutama terhadap dokumen penting seperti KTP, paspor (bila ke luar negeri), dan uang cash yang dibawa.

Setelah ngobrol panjang lebar mengenai tujuan masing-masing yang memang satu arah, saya dan mas Iwan sepakat berjalan bersama hingga Lombok. Berhubung tidak ada lagi angkot yang langsung berhenti di depan Stasiun Gubeng, maka kami memutuskan untuk naik taksi dari depan Stasiun Pasar Turi. Kami cukup membayar argo taksi sebesar Rp 8000,- hingga depan pelataran stasiun. Selain taksi, terdapat pula pilihan kendaraan umum lain seperti ojek dan bajaj bila memang dikejar waktu. Tapi, saya belum sempat mengetahui masing-masing tarifnya. Sebagai informasi, jadwal kereta ke Stasiun Banyuwangi Baru dari Stasiun Gubeng dengan nama KA Mutiara tersedia pada pukul 04.00 WIB dan 09.00 WIB.

Begitu masuk ke dalam stasiun, saya dan mas Iwan langsung bergabung ke dalam antrian untuk membeli tiket. Kami berhasil mendapatkan tiket yang memang saat itu hanya tersedia untuk kelas bisnis. Baik saya maupun mas Iwan harus merogoh kocek sebesar Rp 140.000,- untuk masing-masing tiket tersebut. Setelah tiket didapat, masih ada waktu sebelum berangkat, dan kami memutuskan untuk mencari sarapan dahulu di sekitar stasiun. Kami memutuskan makan nasi campur yang dijual di seberang stasiun Gubeng.

Perjalanan menuju Banyuwangi harus memakan waktu 6 jam menggunakan kereta api. Setelah tiba di stasiun Banyuwangi Baru, kami segera berjalan keluar dan menuju ke Pelabuhan Ketapang yang hanya terletak beberapa meter di sebelah kanan pintu keluar stasiun. Begitu sampai di pintu masuk pelabuhan, kami membeli tiket penyeberangan ke Bali menggunakan kapal fery dengan harga tiket Rp 8000,- per orang. Untuk sampai di pelabuhan Gilimanuk, kapal yang kami tumpangi membutuhkan waktu sekitar 45 menit sebelum melempar sauh.

BALI

Saat tiba di pelabuhan Gilimanuk dan ingin melanjutkan perjalanan, ada baiknya siapkan kartu identitas diri seperti KTP, Paspor, atau SIM untuk proses pemeriksaan di pos pelabuhan. Hal ini tampaknya diberlakukan bukan hanya terhadap turis asing saja, namun berlaku juga terhadap wisatawan domestik. Mungkin, pemerintah daerah Bali tidak ingin kecolongan kembali seperti dulu saat terjadi tragedi bom pada tahun 2002, dan makin memperketat pengamanan terhadap wisatawan yang akan memasuki wilayahnya.

Setelah keluar dari pelabuhan Gilimanuk, awalnya saya dan mas Iwan berniat untuk mencari bus yang langsung menuju ke pelabuhan Padang Bai, namun setelah bertanya ke beberapa petugas yang ada di terminal Gilimanuk, maka kami putuskan untuk menumpang bus menuju ke terminal Ubung di Denpasar, Bali. Setelah sampai di Denpasar, kami baru akan naik bus yang langsung menuju ke Kota Mataram, Lombok. Jadi, kami tidak jadi mencari kendaraan yang hanya sampai Padang Bai, tapi kami memilih menggunakan bus yang memiliki tujuan hingga Mataram.

Namun, diluar perhitungan sebelumnya, perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk menuju ke terminal Ubung Denpasar ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kamipun baru sampai di Denpasar sekitar pukul 21.00 WITA setelah menempuh jalur yang berkelok-kelok mirip dengan jalur puncak di Jawa Barat.

Rasa lelah memaksa kami mencari tempat makan begitu turun dari bus setelah sebelumnya mencari informasi bus apa saja yang tersedia untuk menuju Mataram, Lombok. Dari informasi yang kami dapatkan, bus yang menuju Kota Mataram baru tersedia setiap pukul 06.00 WITA pagi. Namun, saat itu saya merasa butuh waktu untuk istirahat dan memanfaatkan waktu yang banyak saat itu untuk melihat Bali.

Berdasarkan pertimbangan itu, saya pribadi memutuskan untuk mencari hostel atau homestay di daerah Denpasar atau Kuta malam itu juga. Keputusan itu pun menjadi perpisahan saya dengan mas Iwan yang lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju Padang Bai guna menyeberang ke Lombok dan berakhir di Sumbawa, Nusa Tenggara Timur. Sebelum meninggalkannya, saya saya turut menemani mas Iwan untuk mencari tumpangan baginya menuju kesana. Beruntung, tidak butuh waktu lama mas Iwan mendapatkan tumpangan yang kebetulan langsung menuju Padang Bai, dan saya memutuskan naik ojek untuk mencari penginapan di daerah Legian, Kuta.

Setelah mencari di sekitar jalan Legian, akhirnya saya mendapatkan tempat menginap yang cukup murah. Saya hanya perlu membayar Rp 120.000 per malam dengan fasilitas sebuah kasur single big size dan penyejuk ruangan (AC). Namun sayang, saya tidak mengingat nama penginapan tersebut, tapi yang pasti lokasinya tidak jauh dari Seven Eleven Legian dan jalan setapak menuju pantai Kuta. Mungkin dikarenakan kondisi tubuh saya yang sudah sangat lelah saat itu, bahkan setelah mandi pun saya memilih untuk langsung tidur.

This slideshow requires JavaScript.

Alih-alih segera meninggalkan penginapan esok paginya, saya memutuskan untuk menambah waktu berlibur saya di Kuta satu hari lagi dan baru cek-out keesokan harinya. Selain karena menjaga kondisi tubuh, baru pada saat itulah diri saya pertama kalinya berkesempatan mengunjungi Bali. Ya, satu hari ekstra tersebut saya gunakan untuk jalan-jalan menjelajahi Legian dan pantai Kuta. Tapi, saya sedikit kecewa bila mengingat apa yang saya lihat di tengah keramaian dan hamparan pasir di pantai Kuta, harus dikotori oleh tumpukan sampah yang berasal dari laut dan juga pengunjung pantai itu sendiri.

Setelah cukup beristirahat dan menikmati kehidupan Bali, saya melanjutkan perjalanan menuju Mataram, Lombok dengan menggunakan bus Titian Mas dari terminal Ubung berangkat pukul 06.00 WITA pagi dengan membayar Rp 205.000,- sudah termasuk snack dan ongkos menyeberang dari pelabuhan Padang Bai, Bali ke Pelabuhan Lembar, Lombok.

Untuk menyeberang ke Lembar, diperlukan waktu tempuh 4 jam dari Padang Bai. Hal tersebut dikarenakan arus laut di selat Lombok lebih kuat dibandingkan dengan arus laut di selat yang menghubungkan Ketapang dengan Gilimanuk, Bali. Jadi ada baiknya, selalu persiapkan obat mual atau sempatkan untuk sarapan dalam penyeberangan guna menghindari masalah mabuk laut.

SENGGIGI

Setelah sampai di Lembar, bus yang saya tumpangi langsung melanjutkan perjalanan hingga ke Mataram, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di wilayah Lombok Barat. Dari terminal Mataram, saya melanjutkan perjalanan menuju wilayah pantai Senggigi dengan menumpang mobil L300 warna putih dengan membayar ongkos sebesar Rp 6000,-. Sampai di Senggigi, saya langsung mencari penginapan yang sesuai dengan budget. Saat itu, saya telah menyiapkan beberapa alternatif tempat menginap, dan pilihan saya jatuh kepada La Casa Homestay di Jalan Raya Senggigi, Gg. Pura Melase, Tanah Embet, Batu Layar, Lombok Barat.

Homestay yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh pasangan Perancis-Bali ini menawarkan tempat menginap yang nyaman dan bertarif murah selama berlibur di Lombok dengan lokasi yang mengandalkan ciri khas pedesaan, yaitu ketenangan. Untuk menginap di La Casa Homstay, pengunjung dikenakan tarif kamar sebesar Rp 110.000,- per malam, sudah termasuk sebuah kasur standar yang muat untuk dua orang, kamar mandi yang dilengkapi shower, televisi lengkap dengan channel luar, dan sebuah kipas angin.

Untuk lebih mengetahui informasi kamar yang diinginkan, kalian bisa menghubungi La Casa Homestay terlebih dahulu untuk booking kamar. Telp: (370) 692105, Hp: 087-864-293-645, email: lacasa.lombok@yahoo.com

Setelah mendapatkan kunci kamar, saya langsung mandi dan istirahat hingga malam. Dan malamnya, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke daerah pantai Senggigi yang jaraknya memang dekat dari La Casa sembari mencari makan malam.

LOMBOK SELATAN

Keesokan paginya, saya langsung bersiap untuk menjelajahi sepanjang jalur Lombok Selatan dan Lombok Barat dengan diantar oleh ojek sekaligus guide saya selama satu hari tersebut. Namun, bila kalian bisa membawa kendaraan sendiri, alahkah baiknya bila kalian memilih menyewa motor untuk satu hari penuh yang banyak disediakan pemilik penginapan di daerah Senggigi dengan tarif rata-rata sebesar Rp 100.000,- per hari. Atau bila berkelompok, terdapat pilihan lain dengan menyewa mobil dan membayar sebesar Rp 70.000,- per orang sudah termasuk tour ke Gili. Tapi, bila sendirian seperti saya, lebih bijak dengan menyewa sepeda motor atau ojek guide karena dapat dengan bebas menyambangi berbagai tempat di Lombok, terlebih mengingat efisiensi waktu di jalan yang dapat dipersingkat bila menggunakan sepeda motor.

Saya tidak jadi menyambangi ketiga Gili pada lawatan saya kali ini. Keputusan tersebut saya ambil setelah berfikir masak-masak mengenai tujuan saya bila memaksakan untuk menyeberang ke Gili Trawangan, atau Gili lainnya. Niat saya pergi ke Lombok bukanlah untuk melakukan pesta di pulau atau menyelam ke lautan (toh, kondisi saya juga sedang tidak bisa berenang….) huh! šŸ˜¦ . Bila untuk menikmati keindahan pantai dan alam pesisir Lombok, maka wilayah Lombok Selatan, Barat, Tengah, dan Timur merupakan pilihan yang tepat.

Peta Wisata Lombok

Peta Pulau Lombok. Dilengkapi dengan berbagai tempat tujuan wisata mulai dari wisata pantai, wisata gili, hingga wisata gunung Rinjani.

Tempat pertama yang kami datangi adalah pusat kebudayaan suku Sasak, di Mataram. Disana saya bisa melihat bagaimana wanita asli suku Sasak menenun dan memintal kain songket asli suku Sasak. Bahkan, sayapun berkesempatan untuk mencoba pakaian tradisional laki-laki mereka. Disana juga bisa dilihat kehidupan masyarakat desa sasak dengan rutinitas menenun kain mereka.

This slideshow requires JavaScript.

Perlu diketahui, dalam aturan masyarakat suku Sasak, kaum pria dilarang memintal benang dan menenun kain. Sedangkan, kaum wanita belum diperbolehkan menikah sebelum bisa menenun kain. Jadi, hanya pengunjung atau wisatawan wanita yang diperbolehkan mencoba langsung untuk menenun kain sasak menggunakan mesin pemintal tradisional suku Sasak.

Setelah selesai dari desa sasak, kami segera menuju Tanjung Aan di Lombok Selatan, oiya ojek guide saya namanya Bang Wawan asalnya dari Jember, Jawa Timur. Sudah hampir 20 tahun tinggal di Lombok, tepatnya di Mataram, dan memiliki istri asli Lombok. Namun, perjalanan kami sedikit diwarnai kejadian tidak mengenakkan. Hal tersebut terjadi saat baru akan meninggalkan kota Mataram, saat sudah dekat dengan perbatasan kota, ban motor kami mendadak mengalami kebocoran. Terpaksa kami harus mencari tukang tambal ban di sekitar jalan yang kami lewati. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Hujan yang cukup deras mengguyur tanah Lombok saat kami sedang menunggu pergantian ban motor yang bocor tersebut. Bang Wawan berfikir untuk mengganti seluruh ban yang bocor dengan ban baru mengingat jalur dan medan jalan yang akan dilalui kami nanti cukup berat.

Lombok_ganti ban bocor

Demi memperhitungkan kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan, terpaksa mengganti ban yang bocor.

Setelah selesai mengganti ban dan hujan telah reda, kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Aan, Pantai Kuta, dan Mawun Beach di wilayah selatan Lombok. Untuk mencapai ketiga tempat itu semua, kami harus melewati jalan yang cukup berkelok, berbatu, dan naik turun bukit.

PANTAI TANJUNG AAN & PANTAI KUTA LOMBOK

Setelah melihat pantai di Tanjung Aan dan Kuta, saya sadar Lombok tidaklah selalu identik dengan Senggigi, serta Gili Trawangan. Gili Melo, atau Gili Air. Masih banyak surga pantai tersembunyi yang menunggu untuk didatangi oleh para wisatawan lokal maupun asing, khususnya di daerah Lombok Selatan yang masih menyimpan begitu banyak titik landscape menarik berupa pantai dan lautan terbuka yang jarang diketahui sebelumnya.

Pantai Tanjung Aan merupakan pantai yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, dan memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 2 Kilometer. Satu hal yang berbeda saat kaki kalian menginjak Pantai Tanjung Aan, yaitu pasirnya. Tak seperti Pantai Lombok lainnya, pasir Pantai Tanjung Aan berbentuk bulat seperti merica.

Keaslian pantai Tanjung Aan sangat tepat bagi kalian yang gemar ber-snorkling dan berenang. Karena ombaknya yang cukup tenang dengan kedalaman yang relatif dangkal. Jika kalian lupa membawa peralatan, tersedia jasa persewaan alat snorkling di tepi pantai. Menjelang sore permukaan air laut akan mulai naik, menjadikan Pantai Tanjung Aan ini tempat yang tepat untuk berselancar.

Pantai Tanjung Aan ini dikelilingi oleh beberapa bukit. Kalian bisa dengan mudah mencapai bukit tersebut, bila ingin melihat pemandangan Pantai Tanjung Aan yang indah dari ketinggian. Di sekitar wisata pantai Lombok ini, kalian akan menemui beberapa payung kayu dengan rajutan jerami sebagai atapnya. Salah satu cara untuk menikmati Pantai Tanjung Aan adalah dengan berbaring di bawah payung tersebut, sembari menikmati kelapa muda yang bisa kalian beli di sekitar pantai. Kalian juga bisa mengunjungi deretan restoran yang menyediakan berbagai macam masakan. Kalian bisa mencoba menu-menu masakan setempat, sambil menikmati keindahan Pantai Tanjung Aan yang menakjubkan.

Pantai Tanjung Aan di Pulau Lombok terletak sekitar 75 Kilometer dari Kota Mataram, atau sekitar 3 Kilometer dari Pantai Kuta Lombok.Ā Setelah sampai di Pantai Tanjung Aan, pastikan kalian menyempatkan waktu untuk mengunjungi pantai-pantai di sekitarnya. Seperti Pantai Kuta Lombok, Pantai Seger, Pantai Mawun, dan Pantai Selong Belanak. Semua pantai itu bisa ditemukan dengan mengikuti jalur perbukitan yang membelah Lombok Selatan seperti berikut.

Lombok_Pantai Tanjung Aan 16 atas bukit

Pantai Tanjung Aan dilihat dari atas bukit sekitar. Terlihat juga kawasan Pantai Kuta Lombok yang memang tidak begitu jauh jaraknya dari Tanjung Aan.

Lombok_Pantai selatan 1

Samudera Hindia membentang luas dilihat dari atas bukit.

Lombok_Pantai Mawun

Pintu masuk kawasan Pantai Mawun. Seperti kebanyakan pantai di Lombok Selatan, Pantai Mawun menawarkan pesona alam yang masih asli dengan hamparan tanah pasir dan deretan pohon kelapa.

Pantai Mawun

Keindahan Pantai Mawun, Lombok Selatan. Berhubung saya lupa mengambil foto pantainya, maka saya meminjam salah satu foto di Google untuk melengkapi.

Setelah cukup puas berkeliling wilayah pantai selatan pulau Lombok, kami pun melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan, Bang Wawan berinisiatif untuk mengajak saya mampir ke rumah ibu mertuanya yang terletak di sebuah desa di daerah kecamatan Praya, Lombok Tengah untuk istirahat sejenak dan minum air kelapa. Tak ingin menolak rezeki dan kesempatan untuk mengenal wilayah lain di Lombok, maka saya setuju.

Lombok_Pantai selatan 2 jalan bukit

Jalan menuju salah satu desa di Lombok. Sekilas mengingatkan saya akan keberadaan bukit -bukit hijau di acara televisi anak-anak yang sempat populer dahulu, Teletubies.

Lombok_Desa Praya 1

Salah satu desa di Lombok dilihat dari jauh. Alam yang masih asli terpaksa belum didukung oleh sarana listrik dan komunikasi yang memadai bagi masyarakatnya.

20150124_151446

Menikmati air kelapa muda yang dipetik langsung oleh bang Wawan. Bila pada umumnya memetik kelapa dengan cara memanjat pohon, tapi masyarakat di desa ini khususnya dan Lombok pada umumnya menggunakan galah bambu yang ujungnya diikatkan sebilah golok.

Mengingat waktu yang tidak terasa semakin menjelang sore, kami pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke arah Senggigi, namun melalui jalur yang melewati Lombok Tengah. Kami berusaha mengejar waktu untuk melihat momen matahari terbenam di pantai Senggigi.

Lombok_view rinjani 1

Gunung Rinjani dilihat dari badan jalan menuju arah pulang ke Senggigi.

Lombok_view rinjani 2

Dulu saya memiliki impian untuk menggapai puncak Rinjani, namun tampaknya akan sulit mewujudkannya saat ini. Hanya sebuah keajaiban yang dapat mengubahnya.

SUNSET DI SENGGIGI

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, sampailah kami kembali di wilayah pantai Senggigi. Namun, setelah melihat spot yang tersedia, saya meminta kepada bang Wawan untuk mencari tempat yang dapat melihat sunset sekaligus bagian dari Gunung Agung di Bali. Maka, dengan sigap bang Wawan segera mengantarkan saya ke tempat bernama Malibu. Sebuah tebing yang berjarak skitar 200 meter dari Pantai Senggigi. Dari pinggir tebing tersebut, saya bisa melihat secara gamblang proses matahari terbenam. Ditambah, sosok Gunung Agung di Bali yang menambah kekuatan salah satu momen terhebat selama saya berpetualang di tanah Lombok.

Senggigi_Sunset Malibu 1

Menit-menit menjelang waktu matahari terbenam di Pantai Senggigi. Foto diambil dari kawasan Malibu, sebuah tebing yang berjarak sekitar 200 meter dari pintu masuk utama Pantai Senggigi. Terlihat di sisi kanan foto bayangan kaki Gunung Agung di Bali.

Senggigi_Sunset Malibu 2

Momen matahari terbenam yang mulai habis di Pantai Senggigi. Foto diambil dari kawasan Malibu, sebuah tebing yang berjarak sekitar 200 meter dari pintu masuk utama Pantai Senggigi.

Petualangan saya berkeliling ke sebagian wilayah Lombok selama satu hari penuh pun ditutup dengan menyaksikan sunset di pantai Senggigi. Tak lama, saya pun kembali ke homestay dengan diantar bang Wawan. Sesampainya di kamar, saya langsung istirahat sejenak dan meminum air mineral yang baru saya beli. Setelah itu saya segera mandi dan kembali istirahat sambil menonton pertandingan persahabatan antara Persija vs Gamba Osaka di RCTI. Setelah pertandingan usai pun saya langsung kembali tidur, mengingat esok pagi saya akan mengurus cek-out dari homestay dan menuju bandara untuk pulang ke Jakarta.

PULANG KE JAKARTA

Hari kembali pagi, setelah terbangun saya langsung bergegas merapikan pakaian kotor ke dalam tas. Dan segera mandi serta mengecek semua barang bawaan agar tidak tertinggal. Hari itu, tanggal 25 Januari 2015 saya harus kembali ke Jakarta. Selain karena tiket yang telah dipesan sebelumnya, saya harus kembali pada hari itu karena esoknya saya berniat akan ikut mengantar Ibu saya ke bandara untuk beribadah Umrah di tanah suci.

Setelah menyelesaikan kewajiban pada saat cek-out, saya langsung menuju ke Bandara Internasional Lombok (Lombok International Airport) menumpang bus DAMRI dari depan gang masuk homestay dengan membayar ongkos Rp 30.000,-. Perjalanan pulang dengan menggunakan pesawat pun dari Mataram, memakan waktu kurang dari dua jam untuk sampai di Jakarta.

Memang, tidak cukup rasanya meluangkan waktu hanya lima hari untuk pergi mengunjungi semua tempat di Bali dan Lombok. Tapi, saya cukup puas karena berhasil melakukan semua hal itu sendiri saat ini. Rasanya seperti kembali menjadi sosok Daus 10 tahun yang lalu saat masih energik, muda, dan aktif… (Susunya dulu, SGM :p ).

Hal tersebut, membuat motivasi saya kembali terlecut untuk suatu hari nanti kembali ke Lombok dan tempat-tempat indah lainnya di bumi nusantara. Memang tidak akan mudah mewujudkannya, tapi selama kaki ini masih berpijak, masih ada teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung, dan pacar yang masih menjadi resolusi tahunan. Semua pasti akan menjadi indah pada waktunya. Believe…

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s