Tinder, Alay Tapi “Berjodoh”Dengan Saya.


Tidak bisa disangkal Allah memiliki semua kendali makhluknya, termasuk saya.
Bila manusia jatuh cinta, hal tersebut adalah normal. Abadilah cinta, jangan pernah menghindari takdir yang datang sekali. Apalagi, kita sadar tidak ada kesempatan kedua untuk sebuah anugerah terindah.

Makin banyak alternatif bagi Allah mempertemukan setiap umat dengan jodoh yang telah dikehendaki olehnya. Salah satunya melalui aplikasi media sosial, seperti… ehemm Tinder. Meski Alay, tapi “berjodoh” dengan saya. 😀

Bagi yang belum tahu, Tinder merupakan aplikasi digital yang memperbolehkan para laki-laki ngecengin para perempuan single maupun sebaliknya via mobile digital platform berdasarkan foto, short profile bio dan mutual friends. Aplikasi ini akan mendetect data kita berdasarkan Facebook (FB) profile atau Instagram (IG) profile kita sendiri. Sebenarnya ini akurat, kecuali kalau ada yg benar-benar niat bikin identitas palsu sampai harus bikin FB atau IG bohongan.

blog-Tinder

Boleh dibilang, amat jarang pribadi yang bakal sukses menemukan belahan hatinya melalui media sosial. Hal tersebut kembali kepada niat awal setiap orang saat sedang memanfaatkan aplikasi media sosial sejenis dengan Tinder. Apakah untuk “kesenangan semata” atau mengakhiri penantian hidup dengan niat mulia. Sayapun menggunakan Tinder awalnya hanya untuk mengakhiri rasa penasaran terhadap aplikasi tersebut, dan mencoba mencari teman baru ditengah hati yang kekeringan, tapi tetap tidak dengan sembarangan.

Dan, dari sebuah “ketidaksengajaan”, saya menjadi manusia beruntung yang dipertemukan dengan istri saya oleh Allah melalui Tinder. Hehehe…

Pasti kalian berfikir, “yakin tuh baru liat di Tinder, langsung suka?”. Untuk kasus saya dan istri memang “sinetron” banget. Berawal dari aktifitas bermain Tinder, saya menemukan sosok wanita yang kebetulan sudah tidak asing, saya mengenalnya sejak masih kuliah dengan nama Lutfia (setelah kenal, dia maunya dipanggil Faula). Dirinya merupakan adik kelas dan satu jurusan di fakultas yang sama. Nah, memang sudah jodoh kali ya. Tidak lama setelah saya men”swipe” foto profile Tinder dirinya, di layar smartphone saya langsung muncul notification dari Lutfia yang menyetujui saya sebagai temannya. (Gak tau kenapa saat itu saya langsung lompat dari tempat tidur dan jingkrak-jingkrak sendirian……).

Berkat Tinder, jalinan komunikasi, dan hubungan yang semakin erat. Atas restu orang tua, saya dan istri akhirnya melangsungkan pernikahan. Lucunya, niat awal pada saat itu hanya ingin melakukan acara lamaran berubah setelah  tujuh hari sebelumnya keluarga dari pihak saya dan istri menyarankan kami berdua agar bersiap untuk melangsungkan pernikahan di mata Agama terlebih dahulu dengan saksi dan keterangan pihak terkait, kalau belum menemukan tanggal yang tepat.  (Masalahnya, saat itu  kakak perempuan saya juga akan melangsungkan pernikahan saat bulan Muharram/tahun baru Islam). Jadi, menurut orang tua lebih baik saya dan istri menikah lebih dahulu sebelum acara kakak saya, daripada harus menunggu hingga tahun depan (Pandangan orang tua; dilarang menikahkan dua anak dalam satu tahun (Islam). Dan, Alhamdulillah kakak saya dapat menerimanya.

FB_IMG_1460385478206

Saya pun melangsungkan acara lamaran dan dilanjutkan dengan pernikahan pada tanggal 12 September 2015. Dan, kakak saya yang sudah dilamar sebelumnya tetap melaksanakan acara pernikahan dan resepsi sesuai dengan rencana. Sebagai info, Alhamdulillah akhirnya resepsi pernikahan saya dapat terlaksana pada tanggal 14 Februari 2016. Tinder, alay tapi “berjodoh” dengan saya. 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s