Selalu Ada Alasan Kembali Ke Jogja, Sob!


Selalu ada alasan untuk kembali ke Yogyakarta, kota tujuan wisata, kota pendidikan, dan surganya kuliner murah. Bagi saya, Jogja memiliki cerita yang rasanya sulit untuk hilang dimakan usia. Dimulai dengan acara karyawisata saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang harus ditempuh menggunakan bus dari Jakarta, lalu kembali beberapa tahun berselang guna menghilangkan penat bersama teman-teman saat masih kuliah, dan belum lama ini saya kembali lagi ke kota yang pernah saya sebut dalam tulisan sebelumnya beberapa tahun lalu sebagai Kota Segala Romantika dengan mengajak istri tercinta dan beberapa teman lainnya bertajuk family tour.

Beberapa hal dari kota ini terlihat berubah dibanding terakhir kali saya mengunjungi Jogja beberapa tahun yang lalu, hal ini bisa dipahami mengingat perkembangan jaman yang turut menciptakan perubahan dan memunculkan identitas baru untuk kota yang khas dengan makanan Gudeg tersebut, atau memang saya sendiri yang belum melihat semua tempat yang ada di Jogja. Ah, itu hanya masalah waktu dan uang jalan aja sob. 😀

Candi Borobudur

Dikenal sebagai candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus monumen Buddha terbesar di dunia. Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah atau kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Bentuknya terdiri dari atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar terletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). *sumber: Wikipedia

Candi Borobudur dari kejauhan

Suami-suami juga butuh piknik

Dengan keindahannya tersebut, kalian gak akan berhenti berdecak kagum saat melihat bangunan candi Borobudur. Kesempatan itu tentu saya manfaatkan juga untuk berfoto bersama rombongan yang terdiri dari saya dan istri, Bang Aboe dan Anna, Mas Danang dan Ica, Mas Sheva dan Chibe serta Kirani. Selain itu, saya juga manfaaatkan untuk mengambil beberapa foto yang menarik di sekitar candi.

Foto bareng dengan latar Candi Borobudur

Angkringan kota Jogja

Kurang afdol bila kita datang ke Jogja tapi belum mencoba menikmati angkringan kota Jogja. Kedai makanan dan minuman ini boleh saja menjamur diberbagai kota dan menjadi primadona. Namun, percayalah gak ada yang melebihi nyamannya angkringan kota Jogja. Ini bukan selalu tentang harga menunya yang (bisa jadi) lebih murah dibandingkan angkringan di kota lain, tapi ada hal lain yang ditawarkan kedai yang tetap eksis di tengah gempuran Warung Burjo ini, apalagi kalo bukan kebersamaan, kesetiaan, dan malam yang panjang.

Makan malam bareng istri, Mas Danang, Ica, bang Aboe, Anna, Chibe, Mas Sheva, dan Kirani di angkringan kota Jogja Alun-alun Kidul, Yogyakarta.

Mobil Gowes

Salah satu lokasi angkringan yang menyita perhatian saat ke Jogja adalah kedai angkringan yang berada di Alun-alun Kidul, Yogjakarta. Bukan hanya soal makanannya, disini kita juga bisa melihat dan mencoba mengendarai langsung odong-odong atau disebut Mobil Gowes. Uniknya, Mobil Gowes ini dapat berjalan dengan cara dikayuh (seperti becak) oleh empat orang penumpangnya. Jelas, butuh kekompakan untuk membuat Mobil Gowes yang terlihat menarik dengan gemerlap lampu led warna-warni ini berjalan maju. Jangan seperti saat saya, istri, Bang Aboe dan Anna gowes bareng keliling alun-alun, bukannya ‘ngebut’ tapi lebih banyak maju mundur sama debatnya. Haha…

Gowess bareng… (depan-belakang: Bang Aboe -kemudi, saya, istri, Anna-kerudung)

Mobil Gowes, Odong-odong khas Jogjakarta yang saat ini sedang tren di kalangan netizen. Selain butuh tenaga ekstra untuk menggerakkannya, Mobil Gowes juga identik dengan lampu LED warna-warni yang terlihat menarik.

Hutan Pinus Imogiri

Ada tujuan wisata baru yang harus kalian kunjungi saat ke Jogja, yaitu Hutan Pinus Imogiri. Lokasi ini cocok untuk kalian yang memang eksis abis, apalagi kalo bukan foto-foto lalu di posting ke Instagram dan sosial media lainnya. Selain itu, Hutan Pinus Imogiri juga menjadi pilihan yang menarik untuk mencari kedamaian dan ketenangan di tengah-tengah waktu liburan. Bersantai di tengah hutan pinus yang sejuk dan teduh menjadi pengalaman yang patut kalian coba. Destinasi wisata yang terletak di Dlingo, Imogiri, Bantul ini dapat dinikmati cukup dengan membayar biaya parkir kendaraan saja.

Hutan Pinus Imogiri, Bantul

Hutan Pinus Imogiri menjadi lokasi yang cocok untuk bersantai, hunting foto, bahkan pre-wedding

Pantai Sadranan & Pantai Parangtritis

Untuk penikmat wisata pantai seperti saya, Pantai Sadranan menjadi salah satu surga tersembunyi di wilayah Gunung Kidul dengan karakter pasir berwarna putih dan karang di pinggir pantai. Serunya, kalian bisa snorkling di Pantai Sadranan. Bahkan ada beberapa ikan langka dan di lindungi yang berada di Pantai Sadranan.

Pantai yang berada di antara pantai krakal dan pantai indrayanti ini masih sangat sepi dan masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Hanya ketika hari libur sjaa akan sedikit lebih ramai dari pada hari-hari biasa. Tapi itulah yang menjadi daya tarik Pantai Sadranan. Sepi dan tenang.

Pantai Sadranan, Gunung Kidul

Tapi kurang lengkap bila belum ke Pantai Parangtritis. Pantai ini terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pukul 17.00 maupun kendaraan pribadi.  Ingin menyaksikan sunset romantis di Parangtritis? Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini.

Pantai Parangtritis, Gunung Kidul, Yogyakarta

Foto bersama sambil menikmati momen sunset di Pantai Parangtritis

Kebersihan adalah sebagian dari ‘status’, katanya.

Gudeg Yu Djum

Berdiri sejak 1950, Gudeg Yu Djum telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta. Berdasarkan keterangan tertulis dari http://www.gudegyudjum167.com rasa khas gudegnya berasal dari bahan-bahan pilihan dan bermutu serta telah melalui proses masak secara tradisional berdasarkan resep asli yang dipertahankan hingga saat ini.

Gudeg Yu Djum 167

Dikelola secara profesional dengan manajemen yang berpegang teguh pada kepuasan pelanggan, membuat Gudeg Yu Djum menjadi pilihan tepat untuk menikmati kuliner khas kota Jogja bagi semua kalangan. Jadi, kurang lengkap kalo kalian belum makan Gudeg Yu Djum ini saat sedang mampir di Jogja.

Nah, kalo sudah melihat semua tempat tersebut selalu ada alasan untuk kembali ke Jogja, sob!.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s